Medan,-
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sumatera Utara Medan kembali menyelenggarakan forum akademik bertajuk BICARA #9 (Bincang Capaian Akademik dan Riset Ilmiah) pada Kamis, 21 Mei 2026, bertempat di Hall Kopi Pahit KKPRI UINSU. Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Kualitas Guru dalam Pembelajaran Inklusif pada Raudhatul Athfal Inklusif di Kota Medan.”
Forum ilmiah ini menjadi ruang strategis dalam memperkuat diskursus pendidikan inklusif, khususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini berbasis keislaman. Kegiatan menghadirkan akademisi dan peneliti yang memiliki perhatian serius terhadap pengembangan mutu pendidikan inklusif di Indonesia.
Ketua LP2M UINSU, Prof. Dr. Nisful Khoiri, M.Ag, dalam arahannya menegaskan bahwa penguatan kualitas guru merupakan fondasi utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan inklusif yang humanis, adaptif, dan berkeadilan. Menurut beliau, pendidikan inklusif tidak hanya berbicara tentang akses, tetapi juga tentang kualitas layanan pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik secara profesional dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Khadijah, M.Ag sebagai pembahas utama yang menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif dan berkeadilan. Menurut beliau, pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan semata, tetapi juga menyangkut kesiapan pendidik dalam memahami karakteristik serta kebutuhan setiap peserta didik secara menyeluruh.
“Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan pembelajaran yang ramah, adaptif, dan mampu mengembangkan potensi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi,” ujar Prof. Khadijah dalam forum tersebut.
Sementara itu, Dr. Ahmad Syukri Sitorus, M.A selaku Peneliti BOPTN UINSU memaparkan hasil riset mengenai implementasi pembelajaran inklusif pada Raudhatul Athfal di Kota Medan. Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pedagogik guru, penguatan pendekatan pembelajaran diferensiatif, serta dukungan kelembagaan dalam menciptakan sistem pendidikan inklusif yang berkelanjutan.
“Pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi yang kuat antara guru, lembaga pendidikan, orang tua, dan lingkungan sosial agar proses pembelajaran benar-benar mampu menjangkau seluruh kebutuhan anak,” jelas Dr. Ahmad Syukri Sitorus.
Kegiatan ini juga memperlihatkan komitmen LP2M UINSU dalam membangun budaya akademik dan penguatan riset yang progresif. Kehadiran akademisi muda seperti Maslathif Dwi Purnomo, Ph.D menjadi simbol penting dalam pengembangan jejaring intelektual serta kolaborasi ilmiah yang berorientasi pada inovasi pendidikan dan penguatan mutu akademik di lingkungan perguruan tinggi.
Diskusi berlangsung dinamis dengan dipandu oleh moderator Willy Rahim Marpaung, M.Pd yang mengarahkan jalannya forum secara komunikatif, elegan, dan akademis. Interaksi aktif antara narasumber dan peserta menciptakan suasana intelektual yang hidup serta memperkaya perspektif mengenai tantangan dan masa depan pendidikan inklusif di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan BICARA #9, LP2M UINSU kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan riset dan pengabdian masyarakat yang konsisten menghadirkan forum-forum akademik berkualitas demi mendukung kemajuan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia yang inklusif dan berdaya saing. (Andry)

0 Komentar